Halaman

Selasa, 19 Juni 2018

KOSONG ADALAH WUJUD



IKHWANI...

Siapa yang telah mengenal Ke-Tuhanan, maka :

ia telah sampai pada Maqam kesadaran diri dengan cara Musyahadahnya didalam kekosongan.

Jadi...

Sadarilah diri sedalam- dalamnya dalam kosongmu.

Itu artinya makna yang tidak ada Tafsirnya.

Yang ada hanya :

" HU "

.

Maka "Hampa " lah kita. Antara kita dan Rabbul 'Izzati.

Rasa kita adalah Rasanya Ruh Al- Quds.

Hendaklah dirasai pada tahap yang diam hakiki yaitu tengah Qalbu kita.

Inilah hakikat wujud didalam Diam.

.

Tubuh rahasia yang diam itulah yang ber- Tajalli. Jadi Syahadat diri itupun ada didalam diammu.

Itulah Ruh Al- Quds.

Ruh suci inilah Dzat Mutlaq.

Dan Dzat Mutlaq Itulah Sir Allah.

Nurul Dzat itulah menjadi Insan.

Nurul Dzat itulah Ar-Ruh Al- Quds atau Cahaya Diri Ruhul Al-Quds.

.

Maka Tubuh yang " DIAM " itulah yang ber- Tajalli.

Ruh Al- Quds itu Dzat.

Merupakan Sir Tuhan.

Sedangkan Sifat & Dzat adalah satu- kesatuan.

Maka :

INGATAN KITA, PERASAAN KITA HARUS TETAPLAH SATU.

.

Jadi Sahnya Tafakkur kita haruslah Diam.

Diam itulah Ruh Al- Quds.

KOSONG ITU :

Hakikat Nyawa yaitu :

" NUR MUHAMMAD "

Dan NUR MUHAMMAD itulah :

" NYAWA HAKIKI "

yang ada ditengah Qalbu.

.

Penyaksian kita harus kosong.

Sebab kesadaran kita itu ada didalam kosong.

Itulah " HU "

Yang tak ada tafsirnya...

.

Jadi " HU " itu, tidak diucapkan dengan huruf, tidak dengan suara.

Cukup dengan dengan kesadaran yang tinggi, yang ada dalam kekosongan.

.

Bila kita dah mengenal Tuhan dengan sempurna, maka apa yang terlintas, teringat, terlihat dan terdengar dll, maka :

semuanya itu bukanlah Allah yang wujud.

Tetapi " KOSONG "

Wujud masih bersifat Allah.

Dan kosong masih ada wujud.

Karena Tuhan itu :

" LAISYA KAMISLIHI SYAI-UN "

Jadi :

Akhirnya Tafakkur itu adalah :

Siapa yang memandang- Maka Putihlah diri sipandang.

Itulah akhir Ilmunya.

.

AKHWAN..

.

Yang dimaksud " PUTIH DIRINYA ITU " adalah :

Tak berwarna.

Artinya " Suci "

.

- Nah ...

Jika engkau terpandang tubuh-Nya, maka terlihatlah tubuhnya alam semesta.

Baru engkau mengenal yang namanya :

" LAISYA KAMISLIHI SYAI-UN " dan " MUKHALAFAH "

Baru timbul rasa Zauq.

.

LAM YA'RIF LAM YA'ZAUQ.




Kerinduanmu itu bukanlah dg ucapan katamu, tetapi dengan rasamu yang di-inginkan ke- Ma'rifatanmu didalam Tafakkurmu.

Cuma satu saja rasamu yaitu :

" LAA MAUJUDUN ILLALLAH " yang ada.

Jika sudah ber- Ma'rifat,

segenap dirimu akan kembali kepada " AL-HAQ "




IKHWAN...

Jika engkau masukkan zahirmu kedalam diri batinmu yaitu :

Memasuki hakikat diri ketengah hatimu, maka > Terlihatlah Akherat yakni : Diamkan dirimu.

.

Jika engkau menyebut : " HU " tapi lidahmu masih kelu, maka engkau belum " Tubuh Allah "

Jika " HU " ini kelu dilidahmu, maka " HU " Berjalan sendirinya.

Inilah Rahasia Tuhan. Tuhan tubuhku.

.

Orang yang menguap itu tandanya lalai fikirannya.

" HU " itu hakikat Uratmu. Bila " HU " berjalan sendiri, Maka bersihlah dirimu.

Inilah hakikat Ni'mat.




IKHWAN...




Banyak mengetahui Tuhan, tapi sedikit yang mengenal Tuhan.




Kosong itu Wujud.

Inilah Diri Maha suci.

Diri Maha suci itu terlindung oleh Dzat dan Sifat.

Maka Dzat itu Qadim.

Sifatpun Qadim.

Jadi Dzat itulah yang bernama Allah.

Lalu Dzat bercahaya.

Dari cahaya Dzat itulah disebut :

" NURULLAH "

Atau Nur Dzatullah.

Dari Nur Tuhan inilah terjadinya Nur puji-Nya.

Nur pujian-Nya itulah:

" NUR MUHAMAD "

Namanya.

Maka :

Dia berdiri sendiri.

Tiada bertempat.

Tiada memerlukan tempat, dan tiada mengambil tempat.

Jadi :

Dzat Suci yang ber- Tajalli itulah Rahasia Dzat-Nya yakni :

" RUH QUDS "

Maka Rahasia Diri Tuhan itulah Wujud suci.

Itulah Nur namanya.

Ketika ia di- Tajallikan, maka hiduplah Nur itu pada Dzat.

Nur itulah kejadian awal. Maka Nur itulah :

" NYAWA PADA DZAT "

Jadi Dzat ini bernyawakan Nur.

Maka yang dinamakan kosong itulah Wujud.

Itulah Diri Maha Suci yang terlindung oleh Dzat dan Sifat-Nya.

Nur Dzat-Nya itu, menghimpuni Segala : sifat, asma dan af'al.

Jadi Dzat itu dirinya Muhammad.

Dirinya Muhammad Rasulullah itulah dirinya kita.

Maka kenallah kita kepada Rahasia Tuhan. Itulah Diri Rasulullah, Sir-Nya Allah.

Jika dah Faham...

Tuhan itu Dzat-Nya juga dzat-Nya.

Maka ucapkanlah Syahadat Tauhidmu.

Baru dinamakan :

" ISLAM "

Sebab, Islam diawali dengan Syahadat Tauhid dan diakhiri Syahadat Rasul.

Inilah ucapan Rukun Islam dan rukun iman didalam Rukun shalat.

ISLAM adalah SALAM.

SALAM adalah selamat.

Inti sarinya ada 3 hal :

1- ISLAM :

Wajib diisi rukun Shalat dan Tauhid.

2- IMAN :

Melaksanakan perintah, dan menjauhi larangan-Nya.

3 - IHSAN :

Ketika beribadah, ia memandang Allah.

Jadi materi ISLAM itulah :

Wajib 5 waktu.

Inilah kuncinya Islam.

Dalam Shalat 5 waktu itulah :

Memandang Allah dengan cara pandangan Ihsan.

Semoga keterangan ini menguatkan Tauhid kalian kepada Allah Ta'ala.

Mohon ma'af :

akhirul Kalam :

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Aamiin....

Rabu, 06 Juni 2018

Amalan Wirid Sunan Kalijaga




Amalan Wirid Sunan Kalijaga


Selama hidupnya, Sunan Kalijaga selalu melakukan solat hajat sebanyak 4 rakaat setiap malam. Adapun ketentuan solat hajat yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga antara lain :
Pada rakaat pertama membaca surat alfatikhah dan surat al ikhlas 10 X
Rakaat kedua membaca Surat Al fatikhah dan surat Al Ikhlas 20 kali
Rakaat ketiga membaca Surat Al fatikhah dan surat Al Ikhlas 30 kali
Rakaat keempat membaca Surat Al fatikhah dan surat Al Ikhlas 40 kali kemudian salam.

Seusai solat hajat, ada sebuah amalan wirid Sunan Kalijaga yang sangat mustajab yang bisa menambah rezeki anda setiap hari. Adapun amalannya adalah :

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM ................................sebanyak 7 kali dengan menahan nafas.
Istighfar (ASTAGHFIRLLAHAL’ADZIM) .........................sebanyak 7 kali dengan menahan nafas / satu kali tarikan nafas.
Membaca Syahadat .................................................................7 kali dengan menahan nafas.
Sholawat nabi .......................................................juga dibaca sebanyak 7 kali dengan menahan nafas.
LA HAWLA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL’ADHIIM ..........................................................................................sebanyak 3 kali tahan nafas.
Al-Fatihah ...7x Tahan Nafas
Allahu Akbar ...7x Tahan Nafas.

Setelah anda membaca amalan diatas dengan khusyuk, anda kirimkan surat Al Fatihah kepada :

Bismillahirrohmanirrohiim
Li ridho illaahita’ala ......................................................................................al-fatihah
Ila hadrotin nabiyyil musthofa sayyidina muhammadin s.a.w.......................al-fatihah
Wa Ila Hadroti Sayyidina Abu Bakar,Umar,Usman,Ali, R.A ........................Al-Fatihah
Wa Ila Hadroti Sayyidina Malaikat Jibril,Mikail,Isrofil, Izroil A.S ................Al-Fatihah
Wa Khususon Ila Hadroti Sayyidis Syekh Abdul Qodir Jailani R.A................ Al-Fatihah
Wa Khususon Ila Ruhi Wajasadi Shohibul Hajat…….
(Nama Anda Dan Nama kedua orag tua )........................................................Al-Fatihah

Wirid Sunan Kalijaga Setelah Solat Lima WaktuSetelah anda solat lima waktu silahkan anda amalkan wirid Sunan Kalijaga meraih kemuliaan hidup berikut :

Istighfar 101 x
Hasbunalloohu Wani’mal Wakiil 1001 x
Yaa Lathiif 1001 x
Yaa Hayyu Yaa Qoyyum 301 x
Yaa Kariimu Yaa Waduud 301 x

Rabu, 09 Mei 2018

SEJATINE SYAHADAT



HAKEKAT SYAHADAT 

Syarat untuk menjadi Muslim adalah bersyahadat, melakukan persaksian. Syahadat adalah Rukun Islam pertama yang harus dipenuhi. Tanpa syahadat, kamu belum bisa disebut Muslim. Bagaimana bunyi syahadat itu, persaksian itu? Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah (Aku bersaksi sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah). Masalah kemudian muncul ketika ada pertanyaan: “Apakah kamu bisa menyaksikan Allah? Apakah Allah bisa dan mungkin disaksikan?” Karena jika tanpa pernah menyaksikan Allah, maka persaksian itu palsu belaka. Untuk itu, kalangan Islam Kejawen mempunyai pemaknaan tersendiri terhadap dua kalimat syahadat. Mereka menerjemahkannya sebagai berikut: “Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune Mukamad iku utusaningsun (Ingsun bersaksi tiada Tuhan selain Ingsun, dan Ingsun bersaksi Muhammad utusan Ingsun).” Bagaimana penjelasannya? Simak uraian berikut.

Dzatullah (Allah Dalam Dzat) tak mungkin bisa disaksikan. Ia senantiasa “laysa kamitslihi syai’un” (tak serupa dengan apa pun). Dalam khazanah Jawa, Dzatullah ini “tan kena kinira, tan kena kinaya ngapa” (tak bisa digambarkan dengan apa pun), yang disebut dengan Suwung, Kekosongan Abadi. Dalam khazanah Hindu Siwa, Dzatullah ini disebut Paramasiwa (Tuhan absolut yang tak bisa diberi sifat apa pun). Kamu tak akan bisa menyaksikan Dzatullah. Kamu tak bisa menggambarkan Suwung itu seperti apa. Dzatullah adalah Suwung, Kekosongan Abadi, Kemutlakan, yang tak bertempat tetapi segala tempat diliputi oleh-Nya. Karena Dzatullah ini Suwung, Kekosongan Abadi, maka Ia pun tak mengenal ruang-waktu. Dan karena Ia tak mengenal ruang-waktu, maka Ia pun tidak mungkin berfirman atau berkata. Kata-kata selalu terjadi di dalam ruang-waktu. Ada yang berkata dan ada yang diberi kata-kata, ada jarak di sana, sementara Dzatullah/Suwung/Paramasiwa belum mengenal jarak.

Akan tetapi, Dzatullah ini kemudian beremanasi, mengejawantahkan diri-Nya, menjadi Pluntar Kahuripan (Cahaya Kehidupan). Pluntar Kahuripan ini adalah Pribadi Tertinggi alam semesta, yang dalam filsafat Hindu Siwa disebut Sadasiwa dan dalam Tasawuf disebut Nur Muhammad. Pada tahap ini, Dzatullah sudah turun ke dalam sifat (Allah Dalam Sifat). Ia sudah mempribadi dan mempunyai sifat dan nama, yang dalam islam dikenal dengan Asmaul Husna. Nur Muhammad atau Allah Dalam Sifat ini sudah mengenal ruang-waktu, sudah “mampu” berfirman. Pada tahap inilah Allah bisa dan mungkin “disaksikan”. Pluntar Kahuripan/Sadasiwa/Nur Muhammad ini pun berada di dalam diri setiap manusia. Orang Kejawen menyebut Pluntar Kahuripan/Sadasiwa/Nur Muhammad di dalam diri manusia dengan nama INGSUN, orang Arab menyebutnya dengan nama RUH, orang Hindu menyebutnya dengan nama ATMAN. Ingsun adalah manifestasi pertama dari Dzatullah/Suwung/Paramasiwa. Ingsun ini bersemayam dalam diri setiap manusia. Ingsun di dalam dirimu tidak berbeda dengan Ingsun di dalam diriku. Itu sebabnya dalam beberapa dalil disebut bahwa inti kemanusiaan itu satu; jika kamu membunuh satu manusia, maka kamu sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Karena memang hakikat, inti, kemanusiaan adalah Ingsun yang tunggal dan sama. Apa beda antara Pluntar Kahuripan/Sadasiwa/Nur Muhammad dengan Ingsun? Tidak ada. Pluntar Kahuripan/Sadasiwa/Nur Muhammad berada di dalam makrokosmos (alam semesta), Ingsun berada di dalam mikrokosmos (diri manusia). Itu saja. Ibarat air di danau dengan air di cangkir; hakikatnya sama-sama air. Sifat-sifat yang dikandung Allah Dalam Sifat pun dikandung Ingsun. Semua nama mulia Allah dalam Asmaul Husna pun dikandung manusia. Zikir Asmaul Husna sesungguhnya berguna untuk mengaktivasi sifat-sifat mulia Allah di dalam diri kita sendiri. Jika kita membaca “Ya Rahman Ya Rahim (Yang Maha Pengasih dan Penyayang)”, misalnya, itu agar sifat pengasih dan penyayang mengejawantah di dalam diri kita sendiri.

Bagaimana dengan Muhammad dalam syahadat? Muhammad bagi Muslim Kejawen adalah diri kita sendiri. Keberadaan kita di dunia sesungguhnya “mengemban tugas” dari Allah/Ingsun untuk memainkan takdir kita di kehidupan fana ini. Kita semua sejatinya adalah “utusan” Allah/Ingsun. Kanjeng Nabi Muhammad adalah salah satu hamba yang telah jumbuh dengan Allah/Ingsun di dalam dirinya, yang telah mampu memahami cetak biru kehidupannya, sehingga laku spiritual beliau patut diteladani. Dengan demikian, pemaknaan Muslim Kejawen tentang dua kalimat syahadat sudah terjawab, bahwa sesungguhnya Allah yang bisa disaksikan dalam syahadat tak lain adalah Ingsun, Allah yang sudah mempribadi, yang sudah mengenal ruang-waktu; sementara Muhammad dalam syahadat tak lain adalah diri kita sendiri, yang menjadi “utusan” Allah/Ingsun untuk mengemban tugas pribadi kita (swadharma) di kehidupan fana ini.

Lalu, muncul pertanyaan yang tak kalah besar: Jika Allah yang sudah mempribadi atau Ingsun bisa disaksikan, bagaimana kita bisa menyaksikan-Nya di dalam diri kita? Inilah hal terbesar yang hendak dicapai dalam laku spiritual: jumbuh dengan Ingsun, Allah di dalam diri. Hanya orang yang telah jumbuh dengan Ingsun, Allah di dalam diri, yang tahu jati dirinya. Tetapi tidak semua orang bisa menyaksikan Allah/Ingsun. Perjalanan berat dan panjang untuk bertemu dengan Allah/Ingsun ini dibabar dalam lakon Dewa Ruci yang banyak diyakini dianggit oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, mahaguru para Muslim Kejawen. Lakon Dewa Ruci sesungguhnya berkisah tentang perjalanan spiritual Bima menyelam ke dalam dirinya sendiri, untuk berjumpa dengan Sang Dewa Ruci (nama lain untuk Ingsun/Allah di dalam diri). Ruci bermakna Keutamaan, tetapi dalam paramasastra Jawa, Ruci bisa dimaknai pula dengan Ruh Suci, Ingsun/Allah di dalam diri manusia. Sang Dewa Ruci adalah Sang Guru Sejati dalam diri setiap manusia. Sang naga yang ditempuri Bima di dalam samudra tak lain adalah nafsu Bima sendiri. Tanpa mampu menundukkan sang naga, nafsu di dalam diri, kamu tak akan mampu bertemu dan menyaksikan Sang Dewa Ruci di dalam dirimu. Dan karena Allah dalam diri atau Ingsun tersebut sudah mempribadi, sudah menyandang sifat, sudah mengenal ruang-waktu, maka ketika Bima bertemu dan menyaksikan Sang Dewa Ruci, ia pun bisa bercakap-cakap dengan-Nya. Inilah sesungguhnya yang disebut firman! Sabda utama di relung terdalam jiwa manusia.

Kembali ke pembahasan awal bahwa syarat untuk menjadi Muslim adalah bersyahadat, dan kamu tahu bahwa syahadat itu luar biasa berat, bertemu dan menyaksikan Allah/Ingsun/Sang Dewa Ruci itu luar biasa berat, maka sudah berapa dari kita yang menjadi Muslim dalam makna yang sesungguhnya? Pasti hanya bisa dihitung dengan jari. Tahukah kamu apa arti Muslim? Muslim adalah seseorang yang telah memasrahkan diri sepenuh-penuhnya pada kehendak Allah/Ingsun/Sang Dewa Ruci. Muslim sejati adalah ia yang telah “mati sajroning hurip, hurip sajroning pati” (mati dalam hidup, hidup dalam mati), sebagaimana Bima yang hidup kembali setelah bertemu Sang Dewa Ruci. Karena menjadi Muslim itu sungguh berat, aku pun malu mengaku Muslim, sebab aku belum pernah menyaksikan Allah/Ingsun/Sang Dewa Ruci dalam diriku. Aku belum bisa bersyahadat dengan sungguh-sungguh syahadat. Keislamanku masih berada dalam tanda koma, belum mencapai titik. Maka, mereka yang dengan mudah mengaku Muslim sementara syahadat mereka belum paripurna, lalu dengan sembrono menghakimi orang lain yang tidak sama dengan dirinya sebagai kafir, adalah orang-orang yang kebodohannya sungguh tak tertanggungkan. Semoga Allah/Ingsun/Sang Dewa Ruci memberikan hidayah pada kita semua agar bisa bersyahadat dan menjadi Muslim dalam arti yang sesungguhnya .....Aamiin.

Rabu, 25 April 2018

Mencari Allah di dalam Shalat


ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢ 

Barang siapa shalat tidak melihat Tuhan, maka shalatnya tidak sah.
Tetapi barang siapa yang mengatakan dia melihat Tuhan ada bentuknya, maka orang itu fasik, tujuh kali kafir orang yang kafir.
Sesungguhnya kami tidak menyembah, apa yang tidak kami ketahui!
“Bukan sembarang yang melihatKu dapat melihat WajahKu, tetapi yang telah melihat WajahKu itulah yang sungguh-sungguh telah melihatKu. Jika engkau melihatKu dalam suasana kenikmatan, berarti engkau sudah melihat WajahKu, dan siapa melihatKu tidak dalam kenikmatan berarti tidak melihat WajahKu.

Tersebutlah tentang Ja'afar bin Muhammad (As-Shadiq) dalam rangkaian ucapannya ketika ditanya: "Apakah engkau melihat Allah disaat menyembah-Nya? Beliau menjawab: "Aku telah melihat Allah kemudian aku menyembah-Nya "Bagaimana engkau telah melihat-Nya" Beliau menjawab: "Tiada Ia dapat dilihat dengan mata, karena terbatasnya penglihatan, akan tetapi dengan penglihatan hati yang dapat memandang penuh dengan kebenaran dan keyakinan."
Dan ayat Al-Qur'an ini perlu direnung secara mendalam: "Sesungguhnya bukan matanya yang buta, tetapi hatinya yang ada didalam rongga dadanya." (QS. Al-Haj 22:46)

Orang bertanya kepada Nabi SAW: “Wahai Rasulullah! Amalan apakah yang lebih baik?” Maka Nabi SAW menjawab: “Ilmu mengenai Allah ‘Azza wa Jalla (Maha Mulia dan Maha Besar). Bertanya lagi orang itu: “Ilmu apakah engkau kehendaki?” Nabi saw menjawab: “Ilmu mengenai Allah SWT. ’Berkata orang itu lagi: “Kami bertanya tentang amal, lantas engkau menjawab tentang ilmu’. Maka Nabi SAW menjawab: “Bahwa sedikit amal adalah berfaedah dengan disertai ilmu mengenai Allah. Dan bahwa banyak amal tidak berfaedah bila disertai kebodohan mengenai Allah SWT”.

Syekh Abdul Qadir Al-Djaelani r.a. Raja Segala Wali, satu kali ingat Allah serupa dengan amalan orang yang beribadat 40 tahun.Abu Yazid Al-Bistami Guru Segala Wali, dua kali ingat Allah serupa dengan amalan orang yang beribadat 80 tahun dan Nabi Khidir a.s. Mengurus hal-hal kewalian. Tiga kali ingat Allah sama dengan amalan orang yang beribadah 120 tahun. Dan ini tiada berlaku kecuali dengan shalat!
Shalat mengenal shalat. Shalat pula yang mengenal Allah tidak akan dikenal tanpa shalat.

Berkata seorang Sufi: ’’Tidak ada orang yang dapat menilai jalan kerohanian kecuali mereka yang duduk didalam Ma'rifat (pelajaran mengenal Allah). Ramai yang mengakui sudah mencapai Ma'rifat karena hanya pandai bercerita atau hanya membaca buku-buku ma'rifat, tetapi tidak memahami MA'RIFAT. Ilmu Syariat itu lebih nyata dan bersifat dzahir, oleh itu ramai orang dapat menilai Syariat tetapi ilmu Syariat adalah untuk manusia dan bukan untuk disisi Allah Ta’ala.’’
Tahukah kamu siapakah yang dikatakan ulama pewaris ilmu Nabi-Nabi? Yaitu ulama yang mengetahui pelajaran Dzahir dan Bathin. Dan yang Dzahir itu Syariat dan yang Bathin itu Thariqat. Andaikata ada padanya Syariat dan Thariqat tiada halangan baginya untuk mencapai Haqiqat yaitu manusia golongan Wali, sedangkan pelajaran Wali-Wali adalah Ma'rifat.

Sesiapa yang memusuhi Wali-Wali-Ku, akan Aku umumkan perang kepadanya.
Sejauh manakah manusia dapat mengakui dirinya sebagai Tuhan?
Sudahkah dia mengenal ROH (haqiqat dirinya)? Kalau belum mengenal jangan sekali-kali berani mengakui sudah mengenal Allah SWT.

Ada 73 jalan thariqat yang semuanya masuk Neraka kecuali satu jalan yaitu pegangan Ahli Sunnah wal Jamaah. Mereka adalah yang berpegang kepada Al- Qur'an dan Hadits.

Barangsiapa mengikuti jalan Muhammad dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad saw akan selamat dunia akhirat.
Berkata Yazid Ar-Riqasyi: ”Adalah shalat Rasulullah saw itu sama seolah-olah sudah ditimbang”

Bersabda Nabi SAW: ”Sesungguhnya dua orang dari umatku, keduanya berdiri kepada shalat, dimana ruku’ dan sujud keduanya itu satu. Dan diantara shalat keduanya itu adalah diantara langit dan bumi”.

Allah SWT itu tersembunyi daripada kamu tetapi rahasia-Nya ada pada kamu dan ada pada semua makhluk dialam ini, tetapi rahasia itu sendiri dirahasiakan daripada kamu dan jika kamu mengetahui rahasiamu, menjadi tanggungjawabmu untuk memahami dan mempelajari bagaimana rahasiamu itu digunakan untuk memahami rahasia-Nya.

Muhammad itu rahasia-Ku (Allah) dan
Aku (Allah) adalahRahasia Muhammad. Hanya dua raka'at shalat yang sampai kepada Allah SWT. Ada tujuh pintu langit hanya dua pintu yang melihat Akhirat.

Diciptakannya manusia adalah untuk beribadah.

Orang yang shalat bercita-cita masuk Syurga adalah orang yang bodoh, tetapi orang yang shalat tidak masuk Syurga adalah orang yang sesat.

Yang dinamakan sesat bukan hanya orang yang tidak mempercayai adanya Allah, tetapi yang lebih sesat ialah orang yang tidak mengetahui dan menjumpai Allah dikala dia shalat, apalagi dikala nafas terakhirnya, andaikata tidak juga ia mengetahui jalan untuk kembali kepada Allah, maka itu lebih sesat lagi.

Kebanyakan orang yang shalat yang sangat dijaganya ialah kebagusan bacaannya dan tertibnya rukun shalat. Tetapi sedikitpun dia tidak memikirkan bagaimana shalatnya itu dapat terus sampai kepada Allah tanpa perantaraan malaikat.

Jangan menyangka Neraka itu hanya didekatkan pada manusia yang nyata melakukan maksiat, tetapi Neraka juga akan didekatkan pada manusia yang beramal ibadah (shalat) tanpa ilmu.

Waktu anda ruku dan sujud dalam shalat dibentangkan jembatan siratulmustaqim didalam diri anda yang menghubungkan dunia dengan akhirat, tetapi tiada seorang pun yang berjalan diatasnya ketika shalat karena tidak mengetahui yang manakah dikatakan jembatan siratulmustaqim yang berada didalam diri manusia.

Baitullah itu ada pada diri manusia. Barangsiapa shalat tidak memasuki baitullah yang ada pada dirinya, maka shalatnya tidak menghasilkan apapun, apalagi shalat itu sampai kepada Allah.

Banyak orang yang pandai, tapi sedikit yang mengetahui, dari yang mengetahui pula sedikit yang

memahami, daripada yang memahami, sedikit pula yang mendalami, daripada yang mendalami sedikit saja yang sampai kepada haqiqat beriman!

Yang dinamakan sesat bukan hanya orang yang tidak mempercayai adanya Allah, tetapi yang lebih sesat ialah orang yang tidak mengetahui dan menjumpai Allah dikala dia shalat, apalagi dikala nafas terakhirnya, andaikata tidak juga ia mengetahui jalan untuk kembali kepada Allah maka itu lebih sesat lagi.

Telah berkata setengah arifin (ahli ilmu ma'rifat yaitu ilmu mengenal Allah Ta’ala): “Orang yang tidak mempunyai bagian dari ilmu mukasyafah ini, aku takut akan buruk kesudahannya (tidak memperoleh husnul-khatimah).sekurang-kurangnya bagian daripadanya ialah membenarkan ilmu itu dan tunduk kepada ahlinya.

Paling tinggi yang diperbolehkan hanya dapat dikatakan bahwa hati (al-qalb) itu suatu dzat (jauhar) yang amat bernilai,suatu mutiara yang amat mulia.lebih mulia dari segala benda yang dapat dilihat dengan mata. Dia itu, urusan ketuhanan (amrun ilahi), seperti firman-Nya: “Dan ditanyakan mereka akan engkau (Muhammad) tentang roh, maka jawablah: Roh itu urusan Tuhanku (min amri rabbi)”. (QS. Al-Isra : 85.)

Seluruh mahluk dihubungkan (mansubah) kepada Tuhan. Tetapi hubungan roh kepada-Nya adalah lebih

mulia dari hubungan seluruh anggota badan yang lain. Kepunyaan Allah seluruhnya makhluk dan roh.

Roh lebih tinggi dari makhluk yang lain. Dzat yang amat bernilai itu yang membawa amanah Allah, suatu tugas yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi dan bukit bakau tetapi enggan menerimanya dan takut kepada dzat yang bernilai itu . AMANAH ALLAH ITU IALAH SHALAT

Inilah ilmu tersembunyi yang dimaksud oleh Nabi SAW dengan sabdanya: ”Sesungguhnya sebagian dari ilmu itu 

seakan keadaan tertutup yang tidak diketahui selain oleh ahli yang mengenal (ma'rifat) akan Allah Ta’ala. Apabila mereka mempercakapkannya maka tidak ada yang tidak mengerti selain dari mereka yang sudah tertipu, jauh dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu janganlah kamu menghina seorang yang berilmu, yang dianugaerahi oleh Allah Ta’ala ilmu tersebut. Karena Allah Ta’ala sendiri tidak menghinakannya karena telah dianugaerahi ilmu tersebut." (HR. Abu Abdirrahman As-salami dari Abu Hurairah, isnad daif)
Berkata penyair:

Apakah saya hamburkan mutiara,
Dihadapan pengembala domba?
Lalu jadilah dia tersimpan,
Dalam gudang penternak hewan?
Mereka itu tidak tahu.
Akan harga mutiara.
Dari itu saya tidak mahu,
Menggantungkannya pada leher
mereka…….
Kalau kiranya Tuhan,
Mencurahkan belas kasihan
Lalu terjumpa ahli ilmu pengetahuan.
Saya akan siarkan ilmu bermanfaat,
Saya akan memperoleh cinta
mahabbah,
Kalau tidak begitu………
Biarlah tersimpan dan tersembunyi dalam dadaku!
Memberikan ilmu kepada orang bodoh
Adalah mensia-siakannya.
Tak mahu memberikannya kepada yang berhak, adalah menganiayakanya.

Senin, 23 April 2018

FANA


Fana dalam makna leksikalnya adalah ketiadaan dan kehancuran. Dan lawan dari fana adalah baqa, abadi, dan tetap ada. Seperti Tuhan termasuk kategori abadi dan baqa, sementara selain-Nya atau seluruh makhluk digolongkan ke dalam ketiadaaan, kehancuran, dan fana.
Sedangkan fana dalam makna gramatikalnya adalah tidak memandang, memperhatikan, dan menyaksikan keberadaannya sendiri.Yang pasti hal ini tidak berarti asing terhadap dirinya sendiri, namun lebih bermakna bahwa seseorang yang hadir di sisi Tuhan sama sekali tidak melihat eksistensi dirinya sendiri dan dia meniadakan segala sesuatu selain-Nya di dalam hatinya.

Maqâm Fana dalam Tasawuf
Dalam istilah tasawuf, fana’ berarti penghancuran diri yaitu al-fana’‘an al-nafs. Yang dimaksud dengan al-fana’ ‘an al-nafs ialah hancurnya perasaan atau kesadaran seseorang terhadap wujud tubuh kasarnya dan alam sekitarnya.
Maqâm adalah suatu derajat dan tingkatan yang telah dicapai oleh seorang Arif setelah bertahun-tahun melewati segala penderitaan, tazkiyah, dan pensucian diri, serta segala kesulitan. Oleh karena itu, pada umumnya suatu perubahan akan bersifat tetap, abadi, dan tidak mudah sirna apabila dilalui dan dicapai dengan susah payah dan kerja keras.
Pada maqâm fana, manusia di hadapan Tuhan tidak menyaksikan diri sendirinya, penghambaannya, keinginan-keinginannya, harapan-harapannya, dan dunia sekelilingnya. Manusia hanya memandang dan melihat jamaliyah dan jalaliyah Tuhan. Apa saja yang disaksikan oleh para wali Tuhan adalah Yang Haq, apakah melalui perantara atau dengan perantara.

Bagi para pesuluk dan pencari makrifat terkadang perantara itu adalah nama-nama dan sifat-sifat Tuhan, akan tetapi hijab dan perantara cahaya ini pun akan tersingkap, "Ya Tuhanku anugerahkan padaku kesempurnaan penyaksian
kepada-Mu sedemikian sehingga pandangan hati merobek hijab-hijab cahaya." Inilah puncak dan akhir derajat fana yang setelah itu manusia berada pada kondisi melupakan segala sesuatu kecuali Yang Haq dan "menyirnakan" segala sesuatu secara sempurna
selain-Nya. Di sinilah dia mendengar dengan pendengaran Tuhan, melihat dengan pandangan Tuhan, dan berbicara dengan lisan Tuhan.
Realitas fana ini tidak sampai pada penyingkapan hakikat zat Tuhan, karena hakikat
zat-Nya hanya diketahui oleh-Nya dan tidak ada satupun makhluk yang dapat menyaksikan
hakikat zat-Nya.

Penjelasan Detail:
Secara leksikal fana bermakna ketiadaan dan kehancuran. Lawan dari fana adalah baqa yang berarti abadi, tetap, dan eksis. Kata ini dipergunakan dalam al-Quran, walaupun sebagian dari derivatnya yang diaplikasikan, seperti: "Segala sesuatu akan hancur dan yang tinggal wajah Tuhanmu," Tuhan dalam ayat ini meletakkan kata "fanin" (hancur) berhadapan dengan kata "yabqa" (yang tetap, yang tinggal, dan abadi), yang bermakna bahwa hanya Tuhanlah yang selamanya ada dan baqa, sementara segala sesuatu selain-Nya adalah hancur dan sirna.
Akan tetapi, makna gramatikal fana tidak bersesuaian dengan makna leksikalnya. Fana dalam makna gramatikalnya adalah tidak menyaksikan, memandang, melihat, dan mendapatkan dirinya sendiri. Namun hal ini tidak berarti asing terhadap dirinya sendiri, melainkan manusia tidak menyaksikan dirinya sendiri di hadapan Tuhan dan hanya Dia yang dipandang.
Istilah fana’ kata Nicholson, memiliki beberapa tingkatan, aspek dan makna. Semuanya dapat diringkaskan sebagai berikut :
a. Transformasi moral dari jiwa yang dicapai melalaui pengendalian
nafsu dan keinginan.
b. Abstarksi mental dan berlakunya pikiran dari seluruh objek persepsi,
pemikiran, tindakan dan perasaan; dan dengan mana kemudian
memusatkan fikiran tentang Tuhan. Yang dimaksud dengan
memikirkan Tuhan adalah memikirkan dan merenunggi
sifat-sifat-Nya.
c. Berhentinya pemikiran yang dilandasi kesadaran. Tingkat fana yang
tertinggi akan tercapai apabila kesadaran tentanag fana itu sendiri
juga hilang. Inilah yang oleh para sufi dikenal “kefanaan dari fana”
atau lenyapnya kesadaran tentang tiada (fana’ al-fana’)
(R. A. Nicholson, 1975: 60-61).
Selanjutnya, kata Nicholson, tahap terakhir dari fana’ adalah
lenyapnya diri secara penuh, yang merupakan bentuk permulaan dari baqa,
yang artinya berkesinambungan di dalam Tuhan (Nicholson, 1975: 61).
Dengan demikian jelaslah bahwa dalam faham fana ini, materi
manusianya tetap ada dan sama sekali tidak hilang atau hancur, yang hilang
hanya kesadaran akan dirinya sebagai manusia. Ia tidak merasakan lagi akan
eksistensi jasad kasarnya. Nicholson mengertikan faham ini sebagai: fana
the passing-away
of the Sufi from his phenomenal existence, in volves
baqa’, the continuance of his real existence. He who dies to self lives in
God, and fana, the consummation of this death, marks the attainment or
baqa’, or union with the divine life” (Nicholson, 1973: 149).
Yakni, “Fana,
sirnanya sufi terhadap wujud dirinya, masuk ke dalam baqa, kesinambungan
wujudnya yang sebenarnya. Dia orang yang kelihatan pribadi, hidup
bersama Tuhan, dan fana, kesempurnaan dari kematian (kehancuran) ini,
menandakan tercapainya baqa, atau persatuan dengan kehidupan Ilahi”
Definisi Fana dalam Perspektif Para Arif
Al-Junaid, sebagaimana dikemukakan oleh Ibrahim Basyuni,
menggambarkan fana’ sebagai “sirnanya daya tangkap hati terhadap yang
bersifat indrawi karena menyaksikan sesuatu, maksudnya lenyap segala
yang ada dihadapan serta segala sesuatu dari serapan indrawi sehingga tidak
ada sesuatu yang dapat diraba dan dirasakan”
Abu Said Harraz mendefenisikan fana sebagai berikut, "Fana adalah fananya seorang hamba dari memandang penghambaannya, dan baqa adalah baqanya seorang hamba dengan penyaksian Ilahi.
Qusyairi menyatakan, "Setiap kali Pemiliki Hakikat menyelimuti dirinya maka dia tidak lagi menyaksikan segala sesuatu selain-Nya baik wujudnya maupun perbuatannya, dia fana dari makhluk dan baqa dengan perantaran-Nya."
Mir Syarif Jurjany juga mengungkapkan, "Sirna dan tiadanya sifat-sifat buruk itu disebut fana, sebagaimana keberadaan sifat-sifat yang terbatas dikatakan baqa."
Maqâm Fana
Di dalam Irfan terdapat dua istilah:
1. Maqâm;
2. Hâl.
Maqâm adalah suatu derajat dan tingkatan yang telah dicapai secara ikhtiari (dengan kehendak sendiri) oleh seorang Arif setelah bertahun-tahun melewati segala tempaan, tazkiyah, pensucian diri, dan segala kesulitan. Oleh karena itu, secara umum maqâm itu sangatlah sulit untuk sirna dan tiada. Dengan ungkapan lain, penderitaan dan kesulitan yang dijalani dan dialami secara terus menerus dan bergradual oleh seorang Arif dan pesuluk dalam praktek-praktek kezuhudan dan pengorbanan diri sendiri telah mengantarkannya pada suatu derajat khusus dan maqâm tertentu yang pantas baginya. Dan karena tingkatan-tingkatan dan tahapan-tahapan pensucian diri itu dilaluinya dengan upaya yang sungguh-sungguh dan kerja keras, maka maqâm yang telah digapainya itu tidak akan turun dan sirna dengan mudah.
Sementara pengertian hâl berlawanan dengan maqâm tersebut. Hâl adalah suatu bentuk perubahan yang hadir pada diri seorang arif tanpa kehendaknya sendiri setelah menapaki tahapan-tahapan spiritual. Karena perubahan yang hadir itu datang secara tiba-tiba, maka sangat mungkin akan sirna juga dengan tiba-tiba. Dengan demikian, hâl adalah suatu kualitas spiritual yang tidak bersifat konstan dan terus menerus mengalami suatu perubahan.
Manusia dalam maqâm fana tidak menyaksikan dirinya sendiri, penghambaannya, kecenderungan-kecenderungannya, harapan-harapannya, dan alam sekitarnya di hadapan Tuhan dan hanya semata-mata memandang Yang Haq.
Dalam kondisi demikian, fana tidak lagi bersesuaian dengan makna leksikalnya yang bernada negatif, bahkan merupakan suatu tingkatan kesempurnaan. Dan inilah yang sebenarnya dimaksudkan oleh para urafa yang menyatakan, "Puncak fana adalah baqa dan abadi di hadapan Yang Haq." Inilah yang dalam istilah Irfan dinamakan sebagai "fana fii Allah" (fana dalam sifat-sifat Tuhan).
Bagaimana Mencapai Maqâm Fana
Ketika antara manusia dan Tuhannya terdapat hijab-hijab berupa dosa-dosa, maksiat, dan egoisme, serta kebergantungan kepada selain-Nya, maka hijab-hijab kegelapan ini akan menjadi penghalang yang sangat besar untuk sampainya seorang hamba di hadapan suci Tuhannya.
Apabila dia tidak memiliki dosa-dosa, hijab-hijab kegelapan, dan kebergantungan kepada selain-Nya serta sirnanya perhatian kepada keinginan diri sendiri, maka sangat mungkin dia menggapai derajat penyaksian sifat-sifat Tuhan secara terbatas. Setelah mencapai tingkatan ini barulah maqâm fana itu akan diraihnya dan hadir dalam dirinya.
Yang pasti bahwa dalam perjalanan dan suluk irfani ini terdapat banyak tingkatan-tingkatan dan tahapan-tahapan yang kita tidak akan bahas dalam kesempatan ini. Akan tetapi, maksud dari "liqa ullah" (perjumpaan dengan Tuhan) yang dibungkus dalam kata-kata seperti syuhud, baqa, dan… adalah tidak dengan menggunakan mata lahiriah ini, karena sebagaimana dalam ayat al-Quran dikatakan, "Dia (Tuhan) tidak dapat dilihat dan dijangkau dengan mata."[3] Dan begitu pula Tuhan tidak dapat diliputi dengan pikiran-pikiran, karena pikiran dan metode rasionalitas itu tidak disebut sebagai syuhud, liqa, dan …; melainkan apabila seorang hamba ingin "menyaksikan" sifat-sifat Tuhan dan mencapai maqâm fana maka -sebagaimana yang difirmankan dalam al-Quran- dia harus meninggalkan segala sesuatu selain Tuhan, melaksanakan amal dan perbuatan shaleh, dan tidak menyekutukan Tuhan. Seorang hamba yang berkehendak menyaksikan Yang Haq dengan tanpa perantara mestilah dia tidak memandang dirinya sendiri dan segala sesuatu selain-Nya.
Allah Swt berfirman, "Barangsiapa yang berharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia beramal dengan amal yang shaleh dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dalam penghambaan kepada Tuhannya."
Nabi Musa As pun menjadi tidak sadarkan diri atau pingsan ketika berkaitan dengan cerita penyaksian Tuhan. Setelah beliau tersadar dari pingsannya bersabda, "Tuhanku Engkau tidak dapat disaksikan tanpa fana dan memutuskan segala bentuk keterikatan dan kebergantungan."
Akan tetapi, persoalan yang sangat mendasar di sini adalah apa makna dari ungkapan bahwa sebagian pembesar para pesuluk dan arif mengklaim dapat menyaksikan Tuhan Yang Maha Tinggi itu dengan tanpa perantara? Dan secara umum apa yang dimaksud dengan perantara-perantara tersebut?
Untuk memahami dan mengerti makna ungkapan tersebut alangkah baiknya kita memperhatikan dan menyimak pernyataan-pernyataan Imam Khomeni qs dalam kitabnya "Arbain Hadis".
Beliau dalam kitab itu mengungkapkan, "Setelah mencapai ketakwaan yang sempurna, terputusnya secara total perhatian dan kebergantungan hati dari segala sesuatu yang ada di alam, menyirnakan segala bentuk egoisme dan kecintaan kepada diri sendiri, perhatian sempurna kepada Tuhan, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya, larut dalam kecintaan kepada Yang Maha Suci, melakukan segala bentuk pensucian hati, maka akan muncul dan hadir suatu bentuk pencerahan hati dan cahaya malakuti di dalam hati para pesuluk yang beriringan dengan manifestasi nama-nama dan sifat-sifat Tuhan… dan antara ruh suci pesuluk dan Dzat Suci Tuhan hanya terdapat satu hijab, yakni hijab nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Untuk sebagian pembesar para pesuluk sangatlah mungkin mampu merobek hijab-hijab cahaya (hijab nama dan sifat Tuhan) tersebut dan hanya menyaksikan dirinya bergantung secara mutlak kepada Zat Suci Tuhan, dan dalam penyaksian ini dia "memandang" pancaran eksistensial Tuhan dan kefanaan zatnya sendiri."
Dengan kandungan makna yang kurang lebih sama dengan pernyataan Imam Khomeni qs, di bawah akan diutarakan suatu doa yang mulia, munajat sya'baniyah: "Ya Ilahi anugerahkan kepadaku kesempurnaan penyatuan
dengan-Mu sedemikian sehingga mata hati merobek hijab-hijab cahaya."
Dari berbagai referensi kitab-kitab tua seperti Kitab Syarah Hikam Ibni Athoillah
As-Kandariah, Kitab Manhal-Shofi, Kitab Addurul-Nafs dan lain-lain menggunakan istilah-istilah seperti 'binasa' dan 'hapus' untuk memperihalkan tentang maksud fana. Ulama-ulama lainnya yang banyak menggabungkan beberapa disiplin ilmu lain seperti falsafah menggunakan istilah-istilah seperti 'lebur', 'larut', 'tenggelam' dan 'lenyap' dalama usaha mereka untuk memperkatakan sesuatu tentang 'hal' atau 'maqam' fana ini.
Di dalam Kitab Arrisalah
al-Qusyairiah memberikan penjelasan tentang fana.
Fana itu ialah; "Lenyapnya sifat-sifat basyariah
(pancaindera)"
"Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi
dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang makhluk
lain itu. Sebenarnya dirinya ada dan demikian pula makhluk
lain ada. Tetapi Ia tidak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya"
(Al-Qusyairi, t.th: 37)
Maka sesiapa yang telah diliputi Hakikat Ketuhanan sehingga tiada lagi melihat daripada Alam baharu, Alam rupa dan Alam wujud ini, maka dikatakanlah ia telah fana dari Alam Cipta. Fana bererti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiah lahir dan maksiat batin) dan kekalnya sifat-sifat terpuji (mahmudah). Bahawa fana itu ialah lenyapnya segala-galanya, lenyap af'alnya/perbuatannya
(fana fil af'al), lenyap sifatnya
(fana fis-sifat), lenyap dirinya
(fan fiz-zat)
Oleh kerana inilah ada di kalangan ahli-hali tasauf berkata:
"Tasauf itu ialah mereka fana dari dirinya dan baqa dengan Tuhannya kerena kehadiran hati mereka bersama Allah".
Sahabat Rasulullah yang banyak memperkatakan tentang 'fana' ialah Sayyidina Ali, salah seorang sahabat Rasulullah yang terdekat yang diiktiraf oleh Rasulullah sebagai 'Pintu Gedung Ilmu'. Sayyidina Ali sering memperkatakan tentang fana. Antaranya :
"Di dalam fanaku, leburlah kefanaanku, tetapi di dalam kefanaan itulah bahkan aku mendapatkan Engkau Tuhan".
Demikianlah 'fana; ditanggapi oleh para kaun sufi secara baik, bahkan fana itulah merupakan pintu kepada mereka yang ingin menemukan Allah (Liqa Allah) bagi yang benar-benar mempunyai keinginan dan keimanan yang kuat untuk bertemu dengan Allah (Salik). Firman Allah yang bermaksud:
"Maka barangsiapa yang ingin akan menemukan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amalan Sholeh dan janganlah ia mempersekutukan siapapun dalam beribadat kepada Allah
(Surah Al-Kahfi:)
Untuk mencapai liqa Allah dalam ayat yang tersebut di atas, ada dua kewajiban yang mesti dilaksanakan iaitu:
* Pertamanya mengerjakan amalan sholeh dengan menghilangkan semua- sifat-sifat yang tercela dan menetapkan dengan sifat-sifat yang terpuji iaitu Takhali dan Tahali.
* Keduanya meniadakan/menafikan segala sesuatu termasuk dirinya sehingga yang benar-benar wujud/isbat hanya Allah semata-mata dalam beribadat. Itulah ertinya memfanakan diri.
Para Nabi-nabi dan wali-wali seperti Sheikh Abu Qasim Al-Junaid, Abu Qadir Al-Jailani , Imam Al-Ghazali, Ab Yazid Al-Busthomi sering mengalami keadaan "fana" fillah dalam menemukan Allah. Umpamanya Nabi Musa alaihisalam ketika ia sangat ingin melihat Allah maka baginda berkata yang kemudiannya dijawab oleh Allah Taala seperti berikut;
"Ya Tuhan, bagaimanakah caranya supaya aku sampai kepada Mu? Tuhan berfirman: Tinggalkan dirimu/lenyapkan dirimu(fana), baru kamu kemari."
Abu Yazid al-Bustami yang sekaligus dipandang sebagai pembawa faham al-Fana’, al-Baqa’, dan al-ittihad.
Ada seorang bertanya kepada Abu Yazid Al-Busthomi;
* "Bagaimana tuan habiskan masa pagimu?". Abu Yazid menjawab: "Diri saya telah hilang(fana) dalam mengenang Allah hingga saya tidak tahu malam dan siang".
* Satu ketika Abu Yazid telah ditanyai orang bagaimanakah kita boleh mencapai Allah. Beliau telah menjawab dengan katanya:
* "Buangkanlah diri kamu. Di situlah terletak jalan menuju Allah. Barangsiapa yang melenyapkan (fana) dirinya dalam Allah, maka didapati bahawa Allah itu segala-galanya".
* Beliau pernah menceritakan sesuatu tentang fana ini dengan katanya;
* Apabila Allah memfanakan saya dan membawa saya baqa dengaNya dan membuka hijab yang mendinding saya dengan Dia, maka saya pun dapat memandangNya dan ketika itu hancur leburlah pancainderaku dan tidak dapat berkata apa-apa. Hijab diriku tersingkap dan saya berada di keadaan itu beberapa lama tanpa pertolongan sebarang panca indera. Kemudian Allah kurniakan saya mata Ketuhanan dan telinga Ketuhanan dan saya dapat dapati segala-galanya adalah di dalam Dia juga."
Dari segi bahasa
al-Fana’ berarti binasa , Fana’ berbeda dengan al-Fasad (rusak). Fana’ artinya tidak nampaknya sesuatu, sedangkan Fasad atau rusak adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain . Menurut ahli sufi, arti Fana’ adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazimnya digunakan pada diri. Fana’juga berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan dan dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat tercela .
Mustafa Zahri mengatakan bahwa yang dimaksud Fana’ adalah lenyapnya inderawi atau kebasyariahan, yakni sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syahwat dan hawa nafsu. Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan, sehingga tiada lagi melihat alam baharu, alam rupa dan alam wujud ini, maka ia akan dikatakan Fana’ dari alam cipta atau dari alam makhluk . Selain itu Fana’ juga dapat berarti hilangnya sifat-sifat buruk lahir bathin.
Sebagai akibat dari Fana’ adalah Baqa’, secara harfiah Baqa’ berarti kekal sedangkan dalam pandangan kaum sufi, Baqa’ adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena sifat-sifat kemanusiaan (basyariah) telah lenyap maka yang kekal dan tinggal adalah sifat-sifat ilahiyah atau ketuhanan. Fana’ dan Baqa’ ini menurut ahli tasawuf datang beriringan sebgaimana ungkapan mereka :”Apabila nampak nur ke Baqa’an, maka Fana’lah yang tiada dan Baqa’lah yangkekal”. Juga ungkapan mereka : “Tasawuf itu adalah mereka Fana’ dari dirinya dan Baqa’ dengan Tuhannya, karena kehadiran mereka bersama Allah”.
Abu Yazid al-Bustami berpendapat bahwa manusia hakikatnya se-esensi dengan Allah, dapat bersatu dengan-Nya apabila ia mampu melebur eksitensi keberadaan-Nya sebagi suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari dirinya.
Menurut al-Qusyairi, Fana’ yang dimaksud adalah : Fana’nya seseorang dari dirinya dan makhluk lain, terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang mahkluk lain itu. Sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian pula mahkluk lain ada, tetapi ia tidak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya .
Diantara kaum sufi ada yang berpendapat bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan. Seorang sufi yang sampai pada tingkat ma’rifah akan melihat Tuhan dengaqn mata sanubarinya .
Menurut al-Syathi, proses penghancuran sifat-sifat basyariah, disebut Fana’ al-sifat dan proses penghancuran tentang irodah dirinya disebut Fana’ al-irodah serta proses penghancuran tentang adanya wujud dirinya dan zat yang lain disekitarnya disebut Fana’ al-nafs. Apabila seorang sufi telah sampai kepada Fana’ al-nafs yaitu tidak disadarinya wujud jasmaniyah, maka yang tinggal adalah wujud rohaniahnya dan ketika itu ia bersatu dengan Tuhan secara ruhani.
Dari berbagai uraian tersebut diketahui bahwa yang dituju dengan Fana’ dan Baqa’ adalah mencapai persatuan secara rohaniah dan bathiniah dengan Tuhan, sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. Dengan demikian materimanusianya tetap ada, sama sekali tidak hancur, demikianlah juga alam sekitarnya, yang hilang atau hancur hanya kesadaran dirinya sebagai manusia, ia tidak lagi merasakan jasad kasarnya.
Al-Kalabazi (wafat 380 H) menjelaskan bahwa keadaan Fana’ itu tidak bisa berlangsung terus-menerus sebab kelangsungannya yang terus-menerus akan menghentikan organ-organ tubuh untuk melaksanakan fungsinya sebagai hamba Allah dan peranannya sebagain khalifah di muka bumi .
Bila seseorang telah Fana’ atau tidak sadar lagi tentanmg wujudnya sendiri dan wujud lain disekitarnya pada saat itulah ia sampai kepada Baqa’ dan berlanjut kepada Ittihad. Fana’ dan Baqa’ menurut sufi adalah kembar dan tak terpisahkan sebagaimana ungkapan mereka : “Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya, maka yang ada adalah sifat-sifat Tuhan” .
Dengan tercapainya Fana’ dan Baqa’ maka seorang sufi dianggap telah sampai kepada tingkat ittihad atau menyatu dengan yang Maha Tunggal (Tuhan) yang oleh Bayazid disebut “Tajrid Fana’ fi at- Tauhid” yaitu dengan perpaduan dengan Tuhan tanpa diantarai oleh sesuatu apapun .
Dalam ajaran ittihad, yang dilihat hanya satu wujud meskipun sebenarnya ada dua wujud yaitu Tuhan dan manusia. Karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu wujud maka dalam ittihad ini bisa jadi pertukaran peranan antara manusia dengan Tuhan. Dalam suasana seperti ini mereka merasa bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan dimana antara yang mencinta dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu memanggil yang lain dengan kata-kata “Hai Aku” . Dalam keadaan Fana’ si sufi yang bersangkutan tidak mempunyai kesadaran lagi sehingga ia berbicara atas nama Tuhan.
Al-Bustami ketika telah Fana’ dan mencapai Baqa’ maka dia mengucapkan kata-kata ganjil seperti :
“ Tidak ada Tuhan melainkan aku, sembahlah aku, Maha suci aku, Maha suci aku, Maha besar aku” .
Selanjutnya diceritakan bahwa seorang lelaki lewat rumah Abu Yazid (al-Bustami) dan mengetok pintu,
Abu Yazid bertanya : “Siapa yang engkau cari ?” jawabnya : “Abu Yazid”.
Lalu Abu Yazid mengatakan : “Pergilah, dirumah ini tidak ada kecuali Allah yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi” .
Ittihad ini dipandang sebagai penyelewengan (inhiraf) bagi orang yang toleran, akan tetapi bagi orang yang keras berpegang pada agama hal ini dipandang sebagai suatu kekufuran. Faham ittihad ini selanjutnya dapat mengambil bentuk hulul dan wahdat al-wujud.
Ittihad juga adalah hal yang sama yang dijadikan faham oleh al-Hallaj (lahir 224 H / 858 M) dengan fahamnya al-Hulul yang berarti penyatuan meliputi :
a) penyatuan substansial antara jasad dan ruh;
b) penyatuan ruh dengan Tuhan dalam diri manusia;
c) inkarnasi suatu aksiden dalam substansinya;
d) penyatuan bentuk dengan materi pertama dan
e) hubungan antara suatu benda dengan tempatnya .
Meskipun demikian terdapat perbedaan al-Hulul dengan ittihad yaitu dalam hulul, jasad al-hallaj tidak lebur sedangkan dalam ittihad dalam diri al-Bustami lebur dan yang ada hanya diri Allah. Dan dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud dan dalam hulul ada dua wujud yang bersatu dalam satu tubuh.
Faham sufi yang juga dekat dengan faham Ittihad ini adalah dengan faham wahdat al-wujud yang diperkenalkan oleh Ibn Araby wafat tahun 638 H/ 1240 M). Faham wahdat al-wujud ini menurut Harun Nasution adalah merupakan kelanjutan dari faham al-Hulul. Konsep wahdat al-wujud ini memahami bahwa aspek ketuhanan ada dalam tiap mahkluk, bukan hanya manusia sebagaimana yang dikatakan al-Hallaj .
Paham fana’, Baqa’, dan Ittihad menurut kaum sufi sejalan dengan konsep pertemuan dengan Allah. Fana’ dan Baqa’ juga dianggap merupakan jalan menuju pertemuan dengan Tuhan sesuai dengan Firman Allah SWT yang bunyinya :
“Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya”
(Q.S. al-Kahfi, 18 : 110)
Hal yang lebih jelas mengenai proses Ittihad dapat pula kita simak melalui ungkapan al-Bustami : “Pada suatu hari ketika saya dinaikkan ke hadirat Allah, Ia berkata, “Hai Abu Yazid, mahkluk-Ku ingin melihatmu, aku menjawab, hiasilah aku dengan keesaan itu, sehingga apabila mahkluk itu melihatku mereka akan berkata :“Kami tetap melihat engkau, maka yang demikian adalah engkau dan aku tidak ada disana” .
Hal ini merupakan ilustrasi proses terjadinya Ittihad, Demikian juga dalam ungkapan Abu Yazid : “Tuhan berkata : semua mereka kecuali engkau adalah mahklukku, aku pun berkata : Aku adalah engkau, engkau adalah aku dan aku adalah engkau . sebenarnya kata-kata “Aku” bukanlah sebagai gambaran dari diri Abu Yazid, tetapi gambaran Tuhan, karena ia telah bersatu dengan Tuhan sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan bicara melalui lidah Abu Yazid sedang Abu Yazid tidak mengetahui dirinya Tuhan.
Al-Junaid Al-Bagdadi yang menjadi Imam Tasauf kepada golongan Ahli Sunnah Wal-Jamaah pernah membicarakan tentang fana ini dengan kata-kata beliau seperti berikut:
* Kamu tidak mencapai baqa(kekal dengan Allah) sebelum melalui fana(hapus diri)
* Membuangkan segala-galanya kecuali Allah dan 'mematikan diri' ialah kesufian.
* Seorang itu tidak akan mencapai Cinta kepada Allah(mahabbah) hingga dia memfanakan dirinya. Percakapan orang-orang yang cinta kepada Allah itu pandangan orang-orang biasa adalah dongeng sahaja.
3. Himpunan perkataan Tentang Fana
A. Sembahyang orang yang cinta (mahabbah) ialah memfanakan diri sementara sembahyang orang awam ialah rukuk dan sujud.
B. Setengah mereka yang fana (lupa diri sendiri) dalam satu tajali zat dan kekal dalam keadaan itu selama-lamanya. Mereka adalah Majzub yang hakiki.
C. Sufi itu mulanya satu titik air dan menjadi lautan. Fananya diri itu meluaskan kupayaannya. Keupayaan setitik air menjadi keupayaan lautan.
D. Dalam keadaan fana, wujud Salik yang terhad itu dikuasai oleh wujud Allah yang Mutlak. Dengan itu Salik tidak mengetahui dirinya dan benda-benda lain. Inilah peringkatWilayah(Kewalian). Perbezaan antara Wali-wali itu ialah disebabkan oleh perbezaan tempoh masa keadaan ini. Ada yang merasai keadaan fana itu satu saat, satu jam, ada yang satu hari an seterusnya. Mereka yang dalam keadaan fana seumur hidupnya digelar majzub. Mereka masuk ke dalam satu suasana dimana menjadi mutlak.
E. Kewalian ialah melihat Allah melalui Allah. Kenabian ialah melihat Allah melalui makhluk. Dalam kewalian tidak ada bayang makhluk yang wujud. Dalam kenabian makhlik masih nampak di samping memerhati Allah. Kewalaian ialah peringakat fana dan kenabian ialah peringkat baqa
F. Tidak ada pandangan yang pernah melihat Tajalinya Zat. Jika ada pun ia mencapai Tajali ini, maka ianya binasa dan fana kerana Tajali Zat melarutkan semua cermin penzohiran. Firman Allah yang bermaksud :
Sesungguhnya Allah meliputi segala-galanya.(Surah Al-Fadhilah:54)
G. Tajali bererti menunjukkan sesuatu pada diriNya dalam beberapa dan berbagai bentuk. Umpama satu biji benih menunjukkan dirinya sebgai beberapa ladang dan satu unggun api menunjukkan dirinya sebagai beberapa unggun api.
H. Wujud alam ini fana (binasa) dalam wujud Allah.Dalilnya ialah Firman Allah dalam Surah An-Nur:35 yang bermaksud;
"Cahaya atas cahaya, Allah membimbing dengan cahayanya sesiapa yang dikehendakinya." dan "Allah adalah cahaya langit dan bumi."
I. Muraqobah ialah memfanakan hamba akan afaalnya dan sifatnya dan zatnya dalam afaal Allah, sifat Allah dan zat Allah.
J. Al-Thomsu atau hilang iaitu hapus segala tanda-tanda sekalian pada sifat Allah. Maka iaitu satu bagai daripada fana.
Adalah sangat mungkin manusia mencapai suatu derajat yang antara dia dan Tuhannya hanya terhijabi cahaya nama dan sifat Tuhan. Dan juga sangatlah mungkin manusia menggapai suatu tingkatan yang tidak ada lagi hijab-hijab cahaya antara dia dan Zat Suci Tuhan. Para pesuluk yang sempurna akan mampu melewati hijab-hijab cahaya ini dan meraih kefanaan yang sempurna. Dalam kondisi puncak spiritual ini, apa yang disaksikannya adalah hanya Yang Maha Suci. Apa yang didengarnya tidak lain adalah bersumber dari Yang Maha Benar. Dia melihat dengan "mata" Tuhan, mendengar dengan "telinga" Tuhan, dan berucap dengan "lisan" Tuhan. Inilah puncak dan akhir fana dalam Tuhan (fana fillah).